Empat surat pendek dalam Al-Qur'an yang dimulai dengan perintah "Qul" (Katakanlah) memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam struktur keyakinan dan praktik harian seorang Muslim. Surat-surat ini, yaitu Al-Kafirun, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas, seringkali disebut sebagai Al-Quliyyat. Meskipun pendek secara teks, kedalaman makna dan fungsinya dalam menjaga akidah (keyakinan) serta membentengi diri dari berbagai bahaya (spiritual maupun fisik) menjadikannya pilar utama yang tak terpisahkan dari ajaran Islam.
Artikel ini akan mengupas tuntas dan secara mendalam, ayat demi ayat, konteks pewahyuan (Asbabun Nuzul), dan implikasi teologis dari keempat surat yang luar biasa ini. Pembahasan akan merangkum analisis linguistik, tafsir klasik, hingga peran vitalnya dalam menegakkan konsep tauhid yang murni, serta fungsi pertahanannya terhadap gangguan internal dan eksternal. Kami akan menyajikan analisis yang ekstensif, memastikan setiap aspek dari permata Al-Qur'an ini dieksplorasi hingga ke akar-akarnya, memberikan pemahaman menyeluruh tentang bagaimana surat-surat 'Qul' ini menjadi benteng spiritual yang sempurna.
Surat Al-Kafirun (Orang-orang Kafir) adalah surat Makkiyah yang diturunkan pada masa-masa awal dakwah Rasulullah ﷺ di Makkah, pada periode ketika tekanan dan tawar-menawar akidah dari kaum musyrikin mencapai puncaknya. Surat ini merupakan batas tegas (bara'ah) antara tauhid dan syirik, memisahkan secara definitif jalan peribadatan dan keyakinan.
Menurut riwayat dari Ibnu Abbas dan lainnya, surat ini diturunkan setelah para pemimpin Quraisy, seperti Walid bin Mughirah, Aswad bin Muthallib, dan Umayyah bin Khalaf, menawarkan proposal kompromi kepada Nabi Muhammad ﷺ. Mereka mengusulkan agar Rasulullah beribadah kepada berhala-berhala mereka selama satu tahun, dan sebagai imbalannya, mereka akan beribadah kepada Allah ﷻ selama satu tahun berikutnya. Tawaran yang sangat berbahaya ini bertujuan untuk mencairkan garis batas akidah. Surat Al-Kafirun turun sebagai respons ilahiah yang menolak kompromi tersebut secara total dan mutlak, menegaskan bahwa tidak ada ruang abu-abu dalam masalah tauhid.
Perintah 'Qul' di awal adalah perintah yang mutlak dan tanpa negosiasi. Penggunaan kata 'al-kāfirūn' (orang-orang kafir) di sini menunjuk kepada kelompok musyrikin tertentu yang menentang secara aktif, bukan label umum bagi non-Muslim, melainkan mereka yang menolak inti tauhid setelah jelasnya kebenaran.
Ayat ini adalah deklarasi historis tentang perbedaan peribadatan di masa kini. Tafsir klasik, termasuk Tafsir Ibnu Katsir, menjelaskan bahwa kalimat ini berfungsi sebagai penolakan total. Penolakan ini tidak hanya bersifat tindakan ('ābudu) tetapi juga esensi penyembahan itu sendiri. Repetisi yang terjadi dalam surat ini oleh para ulama balaghah (retorika) dilihat sebagai penguatan dan penekanan yang mutlak. Frasa pertama menyangkut penolakan ibadah Rasulullah terhadap tuhan-tuhan mereka, dan frasa kedua adalah penolakan bahwa mereka (kaum kafir) akan pernah menyembah Tuhan yang benar dengan cara yang benar.
Surat Al-Kafirun sering dijuluki sebagai 'Surat Al-Bara'ah' (surat pembebasan/disosiasi) dari syirik. Keutamaan membacanya sangat besar; Rasulullah ﷺ bersabda bahwa membaca surat Al-Kafirun setara dengan seperempat Al-Qur'an, karena surat ini secara ringkas menjelaskan pemurnian Tauhid Uluhiyah (hak Allah untuk disembah) dari segala bentuk kemusyrikan. Membaca surat ini sebelum tidur juga dianggap sebagai perisai dari syirik.
Surat ini mengajarkan kepada setiap Muslim tentang pentingnya al-Wala' wal-Bara' (loyalitas dan disosiasi) dalam konteks keyakinan. Meskipun Islam menjamin kebebasan beragama (seperti yang ditegaskan di akhir surat), tidak ada toleransi atau kompromi dalam inti doktrin ketuhanan. Batasan ini adalah fondasi bagi integritas akidah seorang Muslim.
Analisis yang lebih mendalam menunjukkan bahwa pengulangan ayat 4 dan 5 (yang serupa dengan ayat 2 dan 3, namun menggunakan bentuk kata kerja di masa depan) memperkuat penolakan tersebut, mencakup penolakan terhadap ibadah mereka di masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ini adalah penolakan yang komprehensif, mencakup dimensi waktu dan substansi. Repetisi ini, yang mungkin terlihat redundan bagi pembaca awam, adalah puncak dari penekanan linguistik dalam bahasa Arab.
Para mufassir kontemporer juga menekankan bahwa surat ini, selain menjadi deklarasi akidah, juga merupakan pelajaran manajemen konflik spiritual: menghadapi tekanan tanpa menyerah, namun tetap menghormati batas eksistensi yang berbeda, sebagaimana ditutup dengan ayat 6.
Ayat penutup ini menegaskan prinsip kebebasan beragama, namun setelah garis batas akidah ditarik secara permanen. Ini bukan ajakan untuk sinkretisme, melainkan pengakuan bahwa setelah seluruh penolakan terhadap kompromi selesai, maka jalan hidup (dīn) masing-masing pihak telah ditetapkan dan berbeda secara fundamental.
Studi terhadap pola linguistik dalam Al-Kafirun menyoroti penggunaan tenses dan partikel negasi. Negasi (Lā) yang digunakan di ayat 2 dan 4 bersifat tegas dan menyeluruh, menutup celah interpretasi apapun. Ketika Nabi Muhammad diperintahkan untuk mengucapkan deklarasi ini, beliau tidak hanya berbicara sebagai pribadi, tetapi sebagai duta yang menyampaikan firman Allah, menjadikan deklarasi tersebut abadi dan berlaku bagi seluruh umat Muslim sepanjang masa. Konsep al-bara'ah yang diajarkan oleh surat ini adalah pembersihan hati dari segala bentuk ketergantungan atau pengakuan terhadap entitas selain Allah. Ini adalah inti dari pemurnian tauhid. Dalam konteks sosial, surat ini mengajarkan kekuatan internal untuk mempertahankan identitas spiritual di tengah tekanan mayoritas atau pengaruh budaya yang menyimpang dari tauhid. Ia adalah panggilan untuk konsistensi tanpa goyah.
Para ulama ushul fiqh mengambil kesimpulan dari surat ini bahwa dalam hal ibadah dan keyakinan pokok, tidak dikenal konsep ijma' (konsensus) dengan pihak lain. Batasan yang diletakkan oleh Al-Kafirun adalah batasan yang tidak boleh dilanggar. Setiap Muslim yang mengucapkan surat ini secara rutin, terutama dalam salat, sedang memperbaharui janji untuk menjauhi segala bentuk syirik, baik yang tersembunyi (syirik khafi) maupun yang terang-terangan (syirik jali). Pengulangan ibadah ini adalah pengulangan pembersihan jiwa. Oleh karena itu, Al-Kafirun berfungsi sebagai benteng akidah pertama dari empat surat 'Qul'.
Surat Al-Ikhlas (Pemurnian/Ketulusan) adalah permata Al-Qur'an, disebut juga Surah At-Tauhid. Ia adalah surat yang paling ringkas namun paling komprehensif dalam mendefinisikan Allah ﷻ. Meskipun statusnya diperselisihkan antara Makkiyah dan Madaniyah, mayoritas ulama cenderung pada Makkiyah, diturunkan untuk menjawab pertanyaan krusial mengenai esensi Tuhan.
Diriwayatkan dari Ubay bin Ka'ab, sekelompok kaum musyrikin atau Ahli Kitab (Yahudi/Nasrani) datang kepada Nabi Muhammad ﷺ dan berkata, "Jelaskanlah kepada kami tentang Tuhanmu. Apakah Dia terbuat dari emas? Apakah Dia terbuat dari perak? Jelaskanlah garis keturunan-Nya (nasab)." Sebagai respons terhadap permintaan yang tidak pantas dan antropomorfis (menyamakan Tuhan dengan makhluk) ini, Allah menurunkan Surat Al-Ikhlas untuk memberikan definisi yang murni, menolak segala bentuk perbandingan dengan makhluk ciptaan-Nya.
Kata Ahad (Esa) jauh lebih kuat daripada kata Wāhid (Satu). Ahad memiliki makna kesatuan yang unik dan absolut, tidak dapat dibagi, tidak memiliki tandingan, dan tidak memiliki bagian. Ini menolak konsep politeisme (banyak tuhan), trinitas, atau dualisme. Ini adalah inti dari Tauhid Uluhiyah (Keesaan dalam peribadatan) dan Tauhid Rububiyah (Keesaan dalam penciptaan dan kepemilikan).
Kata Aṣ-Ṣamad adalah nama (sifat) Allah yang sangat agung. Menurut tafsir para sahabat (seperti Ibnu Abbas dan Ikrimah), Aṣ-Ṣamad memiliki makna ganda:
Ayat ini adalah penolakan terhadap pemahaman antropomorfis mengenai ketuhanan. Ia menolak klaim Nasrani bahwa Isa adalah Anak Tuhan (Lam Yalid - tidak beranak), menolak klaim Yahudi bahwa Uzair adalah anak Tuhan, dan menolak klaim musyrikin bahwa malaikat adalah anak perempuan Allah. Pada saat yang sama, Lam Yūlad (tidak diperanakkan) menolak pemikiran bahwa Allah memiliki asal-usul atau permulaan, menegaskan keabadian dan keazalian-Nya. Ayat ini merupakan fondasi Tauhid Asma wa Sifat (Keesaan dalam Nama dan Sifat).
Kufuwan (setara atau sebanding) mengakhiri perdebatan tentang perbandingan. Tidak ada makhluk, baik dalam sifat, kekuatan, maupun kekuasaan, yang dapat disamakan dengan Allah. Ayat ini menjamin kemutlakan keesaan Allah, menutup pintu bagi segala bentuk persekutuan (syirk) dan perbandingan (tasybih). Ia adalah penutup yang sempurna, menyegel definisi Tuhan yang Maha Sempurna.
Keutamaan Al-Ikhlas adalah salah satu yang tertinggi dalam Islam. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa membaca surat ini setara dengan membaca sepertiga Al-Qur'an. Hal ini dikarenakan Al-Qur'an dibagi menjadi tiga tema besar: Hukum (Syariat), Kisah dan Peringatan, serta Tauhid. Karena Al-Ikhlas merangkum esensi murni dari Tauhid, ia membawa pahala yang setara dengan membaca sepertiga dari keseluruhan kitab suci.
Banyak ulama salaf, seperti Imam Malik, sangat menganjurkan pembacaan Al-Ikhlas secara rutin, terutama dalam salat Witir dan sunnah Fajar, sebagai pengingat akan fondasi akidah setiap saat.
Kedalaman surat Al-Ikhlas tidak hanya terletak pada penolakan terhadap konsep ketuhanan yang keliru, tetapi juga pada afirmasi yang positif mengenai kesempurnaan-Nya. Sifat Aṣ-Ṣamad menuntut umat Muslim untuk sepenuhnya bergantung kepada Allah, baik dalam doa, usaha, maupun perencanaan hidup. Ketergantungan ini haruslah mutlak, menghilangkan ketergantungan pada manusia atau materi. Para sufi melihat Al-Ikhlas sebagai surat pemurnian niat (tazkiyatun nafs). Seseorang yang benar-benar memahami dan mengamalkan Al-Ikhlas akan bertindak semata-mata karena Allah (lillahi ta'ala), menghilangkan riya’ dan syuhrah (ingin dipuji).
Secara sintaksis, surat ini sangat ringkas. Setiap kata membawa bobot teologis yang sangat besar. Misalnya, penempatan lafadz Allah di awal dan penggunaan kata ganti "Dia" (Huwa) di ayat pertama menunjukkan fokus langsung pada entitas Ketuhanan yang sudah diketahui oleh fitrah manusia, sebelum kemudian dijelaskan sifat keesaan-Nya (Ahad). Surat ini merupakan kurikulum teologis yang lengkap. Apabila seorang Muslim memahami Al-Ikhlas dengan benar, hampir mustahil baginya untuk terjerumus ke dalam syirik besar maupun kecil.
Hubungan antara Al-Kafirun dan Al-Ikhlas sangat erat. Al-Kafirun berfungsi sebagai pemisahan dari segala sesuatu selain Allah dalam ibadah, sedangkan Al-Ikhlas berfungsi sebagai definisi positif tentang Siapa Allah itu, menjadikan tauhid sebagai konsep yang tidak hanya menolak, tetapi juga menegaskan kesempurnaan Dzat yang disembah.
Dua surat terakhir dari kelompok 'Qul', yaitu Al-Falaq (Waktu Subuh) dan An-Nas (Manusia), dikenal secara kolektif sebagai Al-Mu’awwidhatayn. Fungsi utama kedua surat ini adalah untuk memohon perlindungan (isti’adzah) kepada Allah ﷻ dari berbagai jenis kejahatan. Mereka adalah benteng pertahanan spiritual dan fisik yang diajarkan langsung oleh Rasulullah ﷺ.
Kedua surat ini diturunkan di Madinah, dalam konteks peristiwa yang sangat spesifik. Diriwayatkan bahwa seorang Yahudi bernama Labid bin A'sam melakukan sihir (guna-guna) terhadap Rasulullah ﷺ, yang menyebabkan beliau merasakan sakit dan kebingungan. Setelah Allah memberitahukan lokasi sihir tersebut, sihir itu ditemukan (disembunyikan dalam sumur dalam sisir dan rambut). Kemudian, kedua surat ini diturunkan untuk menghilangkan dan menangkal efek sihir tersebut. Ini menunjukkan bahwa kedua surat ini adalah doa perlindungan yang paling ampuh terhadap segala bentuk bahaya gaib dan nyata.
Surat Al-Falaq berfokus pada meminta perlindungan dari kejahatan yang datang dari luar diri manusia, terutama yang bersifat fisik dan magis.
Perintah 'Qul' lagi-lagi menuntut kepatuhan segera. Al-Falaq secara harfiah berarti 'membelah' atau 'memecah'. Makna yang paling umum adalah waktu subuh, ketika cahaya memecah kegelapan malam. Dengan berlindung kepada Rabb Al-Falaq, kita berlindung kepada Dia yang mampu menciptakan cahaya dari kegelapan, melambangkan harapan dan kemampuan Allah untuk membelah kegelapan (keburukan) dalam hidup kita.
Ini adalah permohonan perlindungan yang sangat luas, mencakup segala kejahatan yang ditimbulkan oleh makhluk-Nya, baik manusia, jin, binatang buas, maupun bahaya alam. Ini adalah perlindungan umum yang mencakup semua potensi bahaya.
Ghāsiq merujuk pada malam yang gelap gulita. Malam adalah waktu di mana kejahatan, baik dari sisi kriminalitas manusia maupun pergerakan makhluk gaib, lebih aktif dan tersembunyi. Perlindungan khusus ini menunjukkan betapa gelapnya malam dapat menjadi simbol bagi ketidakberdayaan manusia di hadapan bahaya yang tersembunyi.
Ayat ini secara eksplisit merujuk pada praktik sihir. An-Naffāṡāt adalah bentuk jamak feminin dari ‘yang meniup’, merujuk pada para penyihir (biasanya wanita) yang melakukan ritual mengikat tali dan meniupkannya untuk melancarkan sihir. Perlindungan ini adalah respons langsung terhadap sihir yang dialami oleh Rasulullah ﷺ sendiri, menegaskan bahwa sihir itu nyata dan hanya Allah yang dapat menangkalnya.
Kejahatan hasad (kedengkian) dimasukkan secara spesifik karena sifatnya yang merusak, seringkali menjadi motif di balik sihir, fitnah, dan kejahatan lainnya. Hasad adalah panah setan yang diluncurkan dari hati pendengki. Ayat ini mengajarkan pentingnya memohon perlindungan dari niat jahat orang lain yang didorong oleh rasa iri.
Al-Falaq, dengan fokus pada Rabb Al-Falaq, menekankan atribut Allah sebagai Penguasa yang mengeluarkan sesuatu dari ketiadaan atau kegelapan. Hal ini sangat menenangkan hati: jika Dia mampu membelah kegelapan kosmik fajar, tentu Dia mampu membelah kegelapan masalah dan kejahatan yang mengancam. Struktur surat ini bergerak dari perlindungan yang paling umum (semua makhluk) menuju bahaya yang lebih spesifik dan tersembunyi (malam, sihir, dan dengki). Ini menunjukkan pendekatan berlindung yang sistematis. Para ulama tafsir menekankan bahwa bahaya dengki (hasad) diletakkan di akhir karena seringkali menjadi sumber kejahatan yang paling sulit dideteksi dan paling mematikan bagi hubungan sosial. Mengamalkan Al-Falaq secara rutin adalah bentuk pencegahan spiritual total.
Analisis linguistik menunjukkan kekuatan permintaan perlindungan ini. Kita tidak meminta perlindungan dari bahaya itu sendiri, tetapi dari Tuhan yang menguasainya (Rabb), menyiratkan bahwa kekuatan perlindungan tersebut adalah mutlak dan tak terkalahkan. Ini adalah latihan tauhid dalam konteks pertahanan diri.
Jika Al-Falaq melindungi dari bahaya eksternal, Surat An-Nas (Manusia) berfungsi sebagai perisai dari bahaya internal yang paling berbahaya: bisikan (waswasah) Setan yang merusak hati dan akal.
Permintaan perlindungan ini memiliki tiga tingkatan (trinitas tauhid):
Al-Waswās adalah bisikan jahat yang merusak niat dan pikiran. Al-Khannās (yang bersembunyi) adalah karakteristik setan; ia bersembunyi ketika kita mengingat Allah (berzikir) dan kembali membisikkan kejahatan ketika kita lalai. Bahaya ini bersifat internal, menyerang langsung jantung keyakinan, keraguan, dan ketaatan.
Bisikan setan tidak menyerang telinga, tetapi ṣudūr (dada/hati), yaitu pusat dari niat, emosi, dan keyakinan. Bisikan ini dapat menciptakan keraguan terhadap Allah, menyuruh melakukan maksiat, atau mengganggu konsentrasi dalam ibadah, seperti yang sering terjadi pada kasus waswas dalam wudu atau salat.
Ayat penutup ini menegaskan bahwa sumber bisikan jahat tidak hanya berasal dari Iblis dan keturunannya (jin), tetapi juga dari manusia itu sendiri. Manusia jahat yang menyeru kepada kesesatan (Syaitan dari kalangan Manusia) bisa menjadi sumber waswasah yang sama berbahayanya dengan jin.
Mu’awwidhatayn memiliki keutamaan sebagai doa perlindungan (ruqyah) terbaik. Rasulullah ﷺ sangat menganjurkan untuk membacanya setiap selesai salat fardhu, sebelum tidur (sambil meniupkannya ke telapak tangan dan mengusapkan ke seluruh tubuh), dan ketika sakit. Aisyah رضي الله عنها meriwayatkan bahwa Rasulullah tidak pernah meninggalkan kedua surat ini dalam praktik hariannya, menekankan bahwa tidak ada perlindungan yang lebih baik dari itu.
Surat An-Nas memiliki keunikan linguistik dengan pengulangan kata 'an-nas' (manusia) sebanyak lima kali, menekankan bahwa manusia adalah subjek yang membutuhkan perlindungan dan sekaligus target utama serangan setan. Penggunaan Rabb, Malik, Ilah secara berurutan tidak hanya untuk kekuatan doa, tetapi juga sebagai pengingat hierarki ketuhanan. Ketika kita mengingat bahwa Allah adalah Rabb, kita mengingat bahwa Dia menyediakan kebutuhan kita; ketika Dia Malik, kita tunduk pada aturan-Nya; dan ketika Dia Ilah, kita mengarahkan ibadah hanya kepada-Nya. Setan menyerang ketiga aspek ini. Jika kita lemah dalam Rububiyah (misalnya meragukan rezeki), Malikiyah (meragukan hukum Allah), atau Uluhiyah (terjerumus dalam syirik), maka waswasah akan mudah masuk.
Keberhasilan setan sebagai 'al-Khannas' terletak pada sifatnya yang bersembunyi dan menyerang dalam kelalaian. Oleh karena itu, obat mujarab melawan waswasah adalah zikrullah (mengingat Allah) secara terus-menerus. Surat An-Nas mengajarkan bahwa peperangan spiritual adalah peperangan yang terjadi di dalam diri, di medan dada manusia. Menguasai hati adalah kunci untuk mengalahkan waswasah. Dengan memohon perlindungan kepada Dzat yang menguasai hati, kita memohon agar Dia menguatkan benteng internal kita melawan tipu daya yang paling halus.
Kajian mendalam terhadap An-Nas juga memperluas definisi setan. Bukan hanya makhluk gaib, tetapi juga dorongan negatif dari diri sendiri (an-nafs al-ammarah bis-su') yang bisa bersekutu dengan bisikan setan dari kalangan jin atau manusia. Membaca An-Nas adalah afirmasi harian untuk tetap berada di bawah kendali ilahi dan bukan dikendalikan oleh hawa nafsu atau pengaruh buruk.
Keempat surat 'Qul' ini, meskipun membahas tema yang berbeda—disosiasi akidah (Al-Kafirun), definisi Tuhan (Al-Ikhlas), perlindungan eksternal (Al-Falaq), dan perlindungan internal (An-Nas)—membentuk satu kesatuan teologis dan praktis yang saling melengkapi dan menyempurnakan keimanan seorang Muslim.
Surat-surat ini dapat dilihat sebagai sistem pertahanan spiritual tiga lapis:
Keempat surat ini dianjurkan untuk dibaca dalam berbagai momen penting dalam kehidupan seorang Muslim:
Kajian komparatif menunjukkan bahwa kelompok 'Quliyyat' ini merupakan jawaban holistik terhadap tantangan eksistensial manusia. Manusia selalu dihadapkan pada dua ancaman utama: keraguan terhadap Tuhan dan ancaman terhadap keselamatan diri. Al-Ikhlas dan Al-Kafirun mengatasi keraguan dan penyimpangan doktrinal. Al-Falaq dan An-Nas mengatasi ancaman keamanan spiritual dan fisik. Kesempurnaan sistem ini mencerminkan kebijaksanaan ilahiah dalam menyediakan manual pertahanan diri bagi umat-Nya.
Peran 'Qul' yang terulang di awal setiap surat menegaskan bahwa ini bukan hanya sekedar deskripsi, tetapi perintah yang harus diucapkan dan diyakini secara aktif. Iman bukanlah konsep pasif, melainkan deklarasi dan tindakan yang berulang. Setiap kali Muslim mengucapkan 'Qul', ia memproklamirkan kembali komitmennya terhadap tauhid dan penolakannya terhadap syirik serta kejahatan.
Linguistik komparatif dari empat surat ini juga menarik. Al-Ikhlas menggunakan bahasa yang sangat definitif dan filosofis (Ahad, Samad), sementara Al-Falaq dan An-Nas menggunakan bahasa yang lebih berbasis narasi perlindungan dari entitas yang bergerak (Ghasiq, Naffathat, Waswasil Khannas). Kontras ini menunjukkan bahwa Allah tidak hanya mendefinisikan Dzat-Nya dengan keagungan yang abstrak, tetapi juga secara praktis melindungi hamba-Nya dari realitas kejahatan yang sangat spesifik dan konkret.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa empat surat 'Qul' adalah inti dari Tauhid dan Isti’adzah (meminta perlindungan). Mereka mengajarkan bahwa hubungan yang benar dengan Allah (Tauhid) adalah prasyarat untuk mendapatkan perlindungan yang efektif (Isti’adzah). Tanpa Al-Ikhlas, doa perlindungan hanyalah kata-kata hampa; dengan Al-Ikhlas, doa perlindungan menjadi benteng yang kokoh, tidak tergoyahkan oleh sihir, dengki, maupun bisikan setan dari jin dan manusia. Inilah harta karun spiritual yang diberikan kepada umat Muhammad ﷺ.
Pentingnya pengkajian yang terus-menerus terhadap surat-surat pendek ini terletak pada fungsinya sebagai pengingat konstan. Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern yang penuh godaan syirik modern (materialisme, penyembahan ego, atau ketergantungan pada idola), deklarasi Al-Kafirun dan definisi Al-Ikhlas menjadi penyeimbang utama. Sementara itu, ketika menghadapi kecemasan, ketakutan, atau gangguan mental, Mu'awwidhatayn menawarkan solusi ilahiah yang menenangkan, mengalihkan fokus dari kekuatan makhluk kepada kekuatan mutlak Rabb An-Nas.
Setiap huruf, setiap perintah, dan setiap penekanan dalam empat surat ini adalah refleksi dari kasih sayang dan kebijaksanaan Allah dalam memberikan panduan yang paling efektif dan paling mudah diakses oleh seluruh umat manusia, menjadikan 'Al-Quliyyat' sebagai warisan yang tak ternilai harganya bagi setiap pencari ketenangan dan pemurnian jiwa.
Sebagai penutup, empat surat yang dimulai dengan 'Qul' ini bukanlah sekadar teks ritual, melainkan cetak biru spiritual seorang Muslim sejati. Mereka adalah formula yang sempurna: dua surat pertama adalah deklarasi iman yang murni dan pemisahan dari kekafiran, dan dua surat terakhir adalah aplikasi iman tersebut melalui permintaan perlindungan total kepada Penguasa alam semesta. Membaca dan memahami keempat surat ini dengan kesadaran penuh adalah cara tercepat dan terkuat untuk mencapai kedamaian batin dan menjamin keselamatan akidah di dunia maupun akhirat.